6 Des 2011

Sayang, aku dijodohkan...

Namanya Khoerunnisa, Nisa biasa dia di panggil. Dia lulusan salah satu SMA terbaik di daerahku. Entah karena di Institut ini membawa embel-embel islam atau memang sudah dari awal dia mengenakan jilbab. Yang jelas, dia terlihat anggun. Seperti biasa, di awal-awal perkuliahan, kami masih malu-malu. Jaga image kalau kata bahasa gaulnya.Oh iya, perkenalkan, namaku Andri. Sebenarnya minat ku di jurusan teknik, tapi apa daya dari segi biaya orang tuaku belum mampu membiayaiku sekolah teknik. Karena itu hari pertama kami kuliah, belum ada perasaan apapun dan mungkin kami masih sibuk dengan sesuatu yang serba baru. Kalau dulu ketika sekolah kita masih pakai seragam yang di sediakan sekolah, sekarang pakaian bebas. Kalau dulu masih memanggil guru, sekarang dibiasakan memanggil dosen. 


Hari itu Selasa tepatnya, mata kuliah Kewarganegaraan. Kami di minta sang dosen membuat kelompok terdiri dari lima orang untuk presentasi. Ah, memang takdir sulit di tebak, aku satu kelompok dengannya, bersama dua teman laki-laki dan satu lagi wanita. Sejak saat itu kami jadi sering bertemu, minimal 1 minggu sekali untuk membahas kuliah, mencari bahan presentasi, atau sekedar kumpul berbincang-bincang mengakrabkan diri. Berpindah dari kos satu ke kos lain, dari satu sudut kampus ke sudut lain. Pepatah bilang, witing tresno jalaran saka kulino, "cinta datang karena telah terbiasa". Entah apa yang membuat ku benar-benar terdorong menyatakan hal ini padanya, pada Nisa, wanita sederhana yang memiliki semangat tinggi dan bisa memengaruhi yang lain tetap semangat. 

Langit hari itu sangat cerah, tak ada tanda-tanda akan turun hujan. Awan pun menggumpal membentuk sesuatu yang indah di lihat. Suara motor terdengar merdu. Ah, mungkin ini yang mereka sebut cinta. Semua terasa indah, manis, dan tidak masuk akal. Tiga hari setelah pernyataanku, Nisa menjawab "Ya, aku mencintaimu". Biarlah orang menyebut aku lebay, karena ini cinta pertamaku. Biarlah orang bilang ini hanya cinta monyet, paling hanya bertahan beberapa bulan saja. Biarlah,, toh yang menjalankan aku dan NIsa, bukan mereka.

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, kami menorehkan cerita-cerita baru, yang mungkin tidak semua orang merasakannya. Banyak hal yang kami lakukan bersama, terlebih karena kami satu kelas sejak tingkat satu. Keluarga Nisa sangat akrab dengan ku, bahkan mereka sering mengajakku pergi bersama. Aku ingat, setiap ada tugas kuliah kami selalu mengerjakan bersama. Aku ingat, kalau kami lapar, kami makan di kantin kampus. Aku pun ingat ketika dia mendadak sakit ketika kuliah berlangsung, aku membawanya ke klinik terdekat. Dan, aku sangat ingat ketika aku mengatakan padanya "Aku akan serius, sekarang kita fokus nyelesain kuliah dulu. Setelah itu aku akan melamarmu". Dia tersenyum, terharu mungkin.

Sudah tiga hari belakangan sikapnya berubah. Meskipun kami satu kelas, tapi akhir-akhir ini dia memilih langsung pulang dan tidak menyapaku sam sekali. Setiap ku tanya, dia hanya menjawab "tidak ada apa-apa, mau sendiri dulu". Ya sudahlah, mungkin itu yang terbaik buatnya. Sampai di hari keempat, dia meminta berbicara di suatu tempat, "ini serius", katanya. Sesampainya di tempat itu, tak tahan dia mengeluarkan air matanya. "ada apa? kok menangis?", tanyaku. Dalam hati aku introspeksi diri, apa aku pernah berbuat salah padanya? Ku rasa tidak.

"Sayang,,aku dijodohkan,,", ucapnya sambil menangis tersedu. Apa? aku tidak salah dengar? Atau dia sedang bercanda saja? Apa ini hanya ujian untukku?. "Dengan siapa?", tanyaku hati-hati. "Anak dari teman Ayah, dia sudah kerja sekarang. Kemarin mereka berkunjung ke rumah dan menjodohkan aku dengan anaknya, Hendri namanya." Penjelasannya makin menimbulkan banyak pertanyaan dalam hatiku. Selama ini, orang tuanya tidak pernah menyinggung perjodohan, bahkan mereka respect padaku. Apa mereka melihat kalau masa depan ku belum jelas, sedang lelaki itu sudah bekerja dan dianggap mapan?. Entahlah,, mungkin ini yang mereka sebut patah hati. 

Setelah pembicaraan hari itu, kami bersikap layaknya hari-hari sebelumnya. Kami memilih menutupinya dari yang lain biar tidak "capek" menceritakannya. Atau mungkin aku tidak sanggup mengatakannya. Sudahlah, mungkin ini yang namanya takdir, sulit untuk di tebak. Dan proses selama lebih dari tiga tahun inilah yang aku jadikan pelajaran.

Untukmu yang (mungkin) berjodoh dengannya,,

30 Nov 2011

Sensasi "Putra Luragung"

Carai,,carai na,, Mijon,, Mijon,,Tarahu,,tahu na,, Bade a? 

Pagi tadi, pukul tujuh lebih tiga puluh menit, ketika beberapa kelas akan pergi makrab ke tempat tujuan masing-masing, ketika Maba (mahasiswa baru) hendak pergi (entah kemana) naik metro mini, ketika kawan-kawan saya sedang futsal, dan ketika salah satu kawan saya sedang sakit, saya berada di pos satpam depan kampus, sendirian, menunggu 4 kawan yang rencananya akan pulang dengan tujuan yang sama. Ada yang berbeda di liburan kali ini. Kalau biasanya saya pulang naik kereta, pagi tadi pertama kalinya saya pulang ke kampung (Cirebon, nggak kampung-kampung banget sih) naik bus. Ada dua alasan kenapa saya pilih bus, untuk cari pengalaman (karena sama sekali belum pernah pulang dari Tangerang naik bus) sama ngirit ongkos juga. Lumayan, buat tambahan ke bukfer minggu nanti lebihnya,,hehe . Lebay mungkin saya menulis cerita ini. Tapi mudah-mudahan masih tetap dilanjutkan membacanya,, :)

Sekitar setengah jam saya menunggu di pos satpam, sendiri. Ada kernet bus sih sebenarnya yang mengajak ngobrol. Tapi itu tidak lama, hanya sekitar 10 menit. Setelah berlima kumpul di pos, kami mencari taksi. Terlihat elit? tidak juga. Sampai lebak bulus tarifnya sekitar 28 ribu lalu di bagi lima. Hitungannya sama saja dengan 2 kali naik angkot,6 ribu per orang.

Sampai di lebak bulus kami mencari bus jurusan Cirebon. "Nah, itu bus nya", teriak kawan saya. Putra luragung? Gak salah nih?? . Yang saya tahu, bus ini sering ugal-ugalan. Memang sih jarang saya dengar bus ini kecelakaan lalu lintas. Lagi pula hanya tinggal naiknya saja, masa harus pulang lagi. Hop! saya masuk bus. dan ternyata di dalam sudah banyak penumpang. Kami mencari bangku kosong (berasa horor dah :D). Setelah dapat, kami duduk dan menungu sampai bus berangkat. Baru saya tahu ternyata bus nya tidak ber-AC dan banyak pedagang yang hilir-mudik bergantian menawarkan dagangannya. Saya pikir kondisinya sama seperti naik bus Bandung-Cirebon, ber-AC dan kalaupun ada pedagang, hanya 1-2 saja. Itu pun kalau sedang macet. Bus berangkat pukul sembilan lewat dua puluh menit.

Di depan saya duduk seorang ibu dengan 2 anaknya. Uniknya, yang satu duduk di sandaran jok, jadi posisinya lebih tinggi dari yang lain. si anak (usia sekitar 5 tahun) sepertinya sudah terbiasa duduk disitu. Di samping kiri saya, di bagian kursi 2 jajar, satu keluarga (Bapak, Ibu, dan 2 anak) duduk di situ. Tidak ada sama sekali keluhan merasa sempit. Ah, kok sepertinya saya sangat tidak bersyukur. Bawaan saya hanya sebuah tas, bukan keluarga apalagi anak yang terkadang merepotkan selama perjalanan. Ah, sudahlah, saya harus bersyukur untuk perjalanan kali ini, dan menikmatinya. Setelah itu, entah kenapa saya merasa exited dan bebrapa kali senyum-senyum sendiri.

Ada beberapa kejadian yang sedikit menarik perhatian saya. Ada satu pengamen yang dia tidak membawa apa-apa, menanyi pun tidak. Dia berdiri di depan, lalu mulai menyampaikan sesuatu. Saya lupa isi lengkap nya, yang saya ingat bagian yang "...daripada saya menantang maut dengan menodong, mencuri dan mencopet, lebih baik saya menanggung malu di hadapan bapak - ibu semua..". Ada juga penjual salak pondoh yang menjual dengan memaksa. Awalnya dia jual 15 ribu untuk 30 buah. Tidak lama kemudian, jumlah dinaikkan menjadi 35 buah, lalu 40 buah, lalu 50 buah. Nah, mungkin ini penambahan terakhir. Akhirnya saya membeli salak itu. Dari cara menjualnya, saya yakin salaknya (setidaknya) benar-benar salak pondoh dan tidak sepet.

Ternyata dugaan saya salah. Tidak lama setelah penawaran tadi, penjual lagi-lagi menaikkan jumlahnya dengan harga yang sama menjadi 55 buah, lalu 60 buah, dan terakhir 70 buah. Kalau saja saya sedikit bersabar,,hehe.
Sebelum bus memasuki tol, kami turun dan meneruskan perjalanan dengan angkot. Satu orang tidak turun dan melanjutkan perjalanan dengan bus. Setelah itu kami bertiga berpisah menaiki angkot jurusan rumah masing-masing. Pukul dua lebih tiga puluh sore saya sampai di rumah, alhamdulillah,,

Itu sedikit (banyak kalee..) cerita perjalanan saya pulkam yang akhirnya merasa exited karena pertama kalinya naik bus, dan ternyata cukup menyenangkan. Inginnya malam ini santai, tapi kemudian teringat acara untuk sabtu ini di UI yang belum selesai persiapannya. Okelah, refreshing-nya dicukupkan dan di lanjut dengan mem-fix-kan acara :D..
oh iya, ada beckham ya lagi tanding lawan timnas ya? Tak apalah, saya jarang menonton bola.. :)


25 Nov 2011

yuk, saling memaafkan :)

Pemaafan tidak ada hubungannya dengan amarah dan niat buruk, tidak ada hubungannya dengan hukuman dan penghakiman. Itu adalah sikap indah yang berarti kita bisa mulai melangkah maju kembali. Sebab sering kali kita memiliki amarah, kita ingin menghukum, kita ingin balas dendam, dan kita berpikir keadlian itu adalah : "Mereka melukai saya dan saya harus balas melukai mereka." Jika kita berfikir keadilan adalah seperti itu, artinya kita terperangkap dalam masa lalu.
Kutipan itu saya ambil dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! karangan Ajahn Brahm. Dalam buku tersebut ada 108 cerita dalam kehidupan nyata yang sangat inspiratif dan kita bisa mengambil hikmahnya, salah satunya mengenai memaafkan sesama manusia. Karena memaafkan itu sangat mulia.
Mungkin diantara kita sampai saat ini ada yang masih menyimpan dendam terhadap yang lain karena suatu kesalahan. Atau pernah berucap " saya tidak akan memaafkannya sampai saya membalasnya!". Jujur, saya pernah mengalaminya. Ingin rasanya membalas seperti apa yang orang tersebut lakukan ke saya, bahkan ingin lebih. Tapi dengan banyaknya nasihat yang masuk kepada saya, saya menjadi sadar bahwa nafsu membalas tidak akan menyelesaikan semuanya. Tahukah kau, kawan? ternyata memaafkan itu indah, dan menenangkan hati. :)

“… dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,   .” (QS. An Nuur, 24:22)